Jakarta, September 2025 — Selama tiga hari yang menginspirasi, 24 hingga 26 September 2025, tawa dan kreativitas memenuhi Nizamia Andalusia Kindergarten (NAK). Guru dari NAK dan Nizamia Andalusia Primary School (NAPS) berkumpul dalam program pelatihan khusus bertajuk "Once Upon A Time: Storytelling Class", yang dirancang membantu pendidik menghidupkan keajaiban cerita.
Pelatihan ini bertujuan mengasah kreativitas dan kemampuan berkomunikasi guru, mendorong mereka membuat setiap momen belajar lebih menyenangkan, bermakna, dan penuh imajinasi. Sesi dipandu oleh Kak Rezki, seorang pendongeng nasional yang dikenal luas karena gaya interaktifnya, teknik mendongeng yang ekspresif, dan kemampuannya menginspirasi pendidik untuk melihat cerita sebagai sarana ampuh untuk membangun kedekatan dan pembelajaran.
Sejak hari pertama, energi di ruangan mulai tumbuh. Para guru mempelajari dasar-dasar dan standar mendongeng, menelusuri apa yang membuat sebuah cerita hidup. Di hari kedua, peserta berlatih menyusun alur cerita dan menyampaikannya dengan suara, nada, dan tempo — memadukan teori dan praktik. Hari terakhir menjadi puncak dengan sesi mendongeng bergaya roleplay, di mana guru bergiliran menampilkan cerita mereka dengan ekspresi dan kreativitas penuh. Ruangan pun hidup saat setiap peserta berubah menjadi pendongeng, mengubah kelas menjadi panggung kecil penuh imajinasi.
Sepanjang lokakarya, Kak Rezki berbagi wawasan bermakna tentang bagaimana mendongeng bisa menjadi jembatan antara guru dan siswa.. "Mendongeng bukan sekadar bercerita — ia tentang menciptakan momen keajaiban yang membantu anak melihat, merasakan, dan memahami dunia", ujarnya dalam salah satu sesi refleksi. Pesannya mengingatkan semua orang bahwa cerita adalah salah satu cara tertua dan paling ampuh untuk mengajarkan nilai, memantik imajinasi, dan memperkuat empati.
Peserta juga mempelajari teknik praktis seperti penggunaan ekspresi wajah, gestur, dan properti untuk memperkuat penampilan. Yang lebih penting, mereka dibimbing memilih cerita yang sesuai dengan tahap perkembangan dan pertumbuhan moral siswa. Wawasan baru ini membekali guru dengan kepercayaan diri untuk memakai mendongeng bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai sarana belajar yang edukatif dan emosional.
Di penghujung hari ketiga, suasana dipenuhi rasa bangga dan inspirasi. Para guru merenungkan bagaimana mendongeng bisa menjadi bagian penting dari praktik kelas sehari-hari — cara memantik rasa ingin tahu, membangun kepercayaan diri, dan menumbuhkan komunikasi yang lebih erat antara guru dan siswa. "Pelatihan ini membuka pikiran kami tentang bagaimana mendongeng bisa mengubah suasana kelas. Lewat cerita, kita bisa mengajarkan empati, kesabaran, dan keberanian dengan cara yang benar-benar diingat anak", tutur Ibu Zahra, guru NAK.
Lokakarya ditutup dengan senyum, tepuk tangan, dan sesi foto yang menangkap semangat gembira belajar bersama. Kelas Mendongeng ini menjadi lebih dari sekadar program pelatihan — ia perayaan kreativitas, imajinasi, dan jantung dari kegiatan mengajar itu sendiri. Lewat inisiatif seperti ini, Nizamia Andalusia School terus memperkuat misinya membentuk pendidik yang kreatif, empatik, dan terampil — guru yang mampu menjadikan setiap kelas sebagai tempat cerita menginspirasi pertumbuhan, imajinasi, dan kemanusiaan.
Sumber:
- Fathimah Az Zahra, S. Pd., Koordinator NAK Lower Level
- Rezki, Pendongeng & Motivational Speaker
- Diajeng Manipuspaka Azzahra, S.I.Kom.
- Siti Cholilah, S.Pd.I.
