Logo Nizamia Andalusia School

Berani Bersuara: Guru Memimpin Aksi Anti-Perundungan


5 dilihat

Jakarta, Agustus 2025 — Home of The Falcons Auditorium dipenuhi empati dan tekad saat para pendidik Nizamia Andalusia berkumpul untuk lokakarya dua hari pada 26-27 Agustus 2025. Sesi bertajuk "Standing Up, Speaking Out: Teachers Leading Anti-Bullying Action", dipandu oleh Ibu Hanlie Muliani, seorang Psikolog Anak, Remaja, dan Pendidikan yang dikenal atas keahliannya dalam perkembangan anak dan lingkungan belajar yang aman.

Dengan pendekatan yang hangat dan komunikatif, Ibu Hanlie mengajak peserta menelusuri akar persoalan dan dampak emosional perundungan. Ia menegaskan bahwa perundungan bukan sekadar agresi yang kasat mata — ia bisa muncul dalam banyak bentuk halus yang melukai kepercayaan diri anak dan rasa memiliki mereka. "Perundungan sering kali dimulai dalam diam", ujarnya, "dan tugas kita sebagai pendidik adalah memutus keheningan itu — dengan empati, dengan kesadaran, dan dengan tindakan".

Sepanjang lokakarya, peserta terlibat dalam kegiatan interaktif, simulasi peran, dan diskusi reflektif yang menantang mereka berpikir melampaui respons disipliner. Mereka berlatih mengenali tanda-tanda awal perundungan, berlatih merespons dengan empati alih-alih hukuman, dan berlatih membangun lingkungan kelas yang berlandaskan rasa hormat, kepercayaan, dan inklusi. Para guru belajar pentingnya mengubah diri dari sekadar pengamat menjadi pembela — orang dewasa yang berani bersuara dan bertindak tegas saat menyaksikan ketidakadilan atau perilaku tidak baik.

Sesi-sesi ini juga mengajak guru belajar dari pengalaman nyata di kelas. Lewat berbagi secara terbuka, peserta merefleksikan tantangan yang mereka hadapi dalam menangani konflik antarsiswa dan strategi yang berhasil membangun hubungan positif. Seiring wawasan semakin dalam, ruangan berubah menjadi ruang belajar bersama — tempat para guru tidak hanya menemukan cara praktis, tetapi juga kekuatan dalam kebersamaan.

Menambah makna pengalaman itu, siswa juga hadir di sebagian sesi. Cerita, refleksi, dan sudut pandang mereka menghadirkan suara nyata dalam diskusi — mengingatkan semua orang bahwa pendidikan anti-perundungan bukan hanya soal kebijakan atau intervensi, melainkan soal mendengarkan anak-anak yang kita dampingi dengan sungguh-sungguh. Setiap senyum, setiap momen mendengarkan, dan setiap tindakan empati menjadi bagian dari jalinan tak terlihat yang menyatukan komunitas sekolah. Ibu Desni merenung, "Kita sering mengajarkan anak untuk berani, tapi hari ini kita diingatkan bahwa guru pun harus berani — berani mendengarkan, berani bersuara, dan berani berdiri untuk hal yang benar".

Melalui inisiatif seperti ini, Nizamia Andalusia School terus meneguhkan misinya membangun komunitas tempat kebaikan dan keberanian berjalan beriringan — tempat setiap siswa belajar di lingkungan yang menjunjung rasa hormat, welas asih, dan inklusi. Komitmen ini mencerminkan upaya sekolah yang berkelanjutan memberdayakan pendidik sebagai agen perubahan — guru yang mengajar bukan hanya dengan kecerdasannya, tetapi juga dengan kemanusiaannya. Sebab di setiap kelas yang mempraktikkan empati, dan pada setiap guru yang memilih berdiri membela, masa depan yang lebih aman dan penuh kasih mulai terbentuk.


Sumber:

  • Desni Rityasona, S. S., M. M., Wakil Kepala Kurikulum NAPS Upper Level
  • Hanlie Muliani, Psikolog Anak, Remaja & Pendidikan
Penulis:
  • Diajeng Manipuspaka Azzahra, S.I.Kom.
  • Siti Cholilah, S.Pd.I.
Editor: Eno Pratiwi, S.E., M.Pd.

Playgroup TK SD SMP SMA